Minggu, 12 Oktober 2008

YANG BERLAWAN, Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI

Judul Buku : YANG BERLAWAN, Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI
Penulis : Imam Soedjono
Penerbit : RESIST BOOK
Cetakan : Pertama, Januari 2006
Tebal : 441 halaman
Peresensi : Gede Sandra*


Versi Lain Sejarah Perlawanan Bangsa

Adalah tugas kaum muda untuk mengumpulkan kembali lembar-lembar sejarah yang berserakan di negaranya. Setelah sepuluh tahun Reformasi telah terjadi pembukaan ruang demokrasi di segala aspek kehidupan. Namun keterbukaan tersebut belum bisa dijadikan harapan bagi kaum muda untuk benar-benar berbicara bebas soal ideologi, terutama tentang paham Marxisme-Leninisme/Komunisme -yang identik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini bukan hanya disebabkan masih berlakunya legal formal tentang pelarangan paham Komunisme/PKI (TAP MPRS No. XX 1966), melainkan juga karena phobia komunisme/sosialisme masih berulang kali didesirkan oleh kelompok konservatif. Semoga kehadiran buku setebal 441 halaman, bercover merah kehitaman, dan berdesain nasionalistik yang tersirat ini dapat menarik kaum muda yang masih mau berpikiran terbuka akan sejarah nation-nya.

Sesuai judulnya, Yang Berlawan menyampaikan pandangan lain bahwa sejarah rakyat Indonesia adalah suatu rangkaian perlawanan rakyat. Perlawanan tersebut dapat diartikan penolakan politik terhadap segala macam bentuk penindasan dan penghisapan dari penjajah asing dan kolaborator pribumi. Selain itu, sang penulis, Imam Soedjono -yang kini menetap di Belanda- juga terlihat berupaya merehabilitasi nama Partai Komunis Indonesia (PKI) dari segala macam hal (yang menurutnya adalah) pemalsuan ataupun penggelapan sejarah. Kedua sudut pandangan tersebut dirangkai sedemikian rupa sehingga menunjukkan bahwa PKI punya andil cukup besar dalam memimpin sejarah perlawanan rakyat Indonesia.

Pencatatan sejarah dilakukan oleh penulis dengan teramat rinci dan jeli tanpa meninggalkan kilas situasi sosial dan ekonomi yang berlangsung saat itu. Tentang rincinya data yang disajikan di dalam buku, peneliti sejarah Indonesia, George Junus Aditjondro (pada Kata Pengantar Yang Berlawan) menyatakan kekagumannya atas kapasitas kualitas dan kuantitas data sejarah- mengingat begitu minimnya pengalaman penulis sebagai peneliti sejarah.

Ambil satu contoh saat pria yang dicap exiles Orde Bari ini mengulas periodisasi perlawanan rakyat tidak jauh dari monentum Proklamasi di akhir tahun 1945 dan masa tanam paksa di abad 19 di Jawa Tengah. Sungguh menakjubkan membaca bagaimana jalannya Peristiwa Tiga Daerah pada Bab IV (Penggulingan Kekuasaan Lokal dan Revolusi Sosial) digambarkan dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan bulan ke bulan dengan sangat terinci. Fenomena perlawanan politik a’la petani Jawa semacam pepe (suatu aksi demonstrasi damai para petani miskin di zaman Kerajaan Mataram ) pun tidak luput dari pengamatannya. Diceritakan juga landasan filosofi milenaristik yang menjadi ideologi para pelawan di masa akhir tanam paksa tersebut.

Sesuai dengan sub-judul yang tertera di cover (”Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI”), perjalanan PKI sebagai salah satu partai tertua di Indonesia dikupas untuk disajikan dengan sangat tuntas dan rinci. Dari masa awal kelahirannya; budaya-budaya aksi massa yang mengiringi kelahirannya; gambaran profil tokoh-tokoh (baca: agitator-agitator) pentingnya; kisah rinci perjuangan yang dilakukan (Pemberontakan 1926, Provokasi Madiun 1948, dan Blitar 1967); dinamika strategi dan taktik yang digunakan (perjuangan bersenjata, bawah tanah, dan parlementarian), bahkan sampai kepada perdebatan-perdebatan, konflik dan intrik yang terjadi dalam internal partai pun dapat mata kita santap dengan jelas.

Penulisan sejarah yang objektif sangat sulit untuk dilakukan di masa ini, apalagi jika sejarah tersebut sarat dengan kepentingan politik masa lalu. Itu dikarenakan, dalam kadar yang berbeda, muatan subjektif sang penulis sejarah ikut ambil bagian di dalamnya. Beberapa penilaian penulis yang terlalu subjektif terhadap lawan-lawan politik PKI saat itu: kekuatan-kekuatan politik yang berseberangan (Militer, PSI, Masyumi, dan Murba) beserta tokoh-tokohnya (Tan Malaka, Syahrir, Hatta, dan Nasution), diungkapkan dengan agak tajam. Namun tidak hanya itu, penilaian yang subyektif dan tidak adil terhadap faksi yang berseberangan di dalam intenal PKI diuraikan dengan cukup eksplisit oleh penulis (terutama kepada kelompok Aidit cs). Tampak penulis sudah memiliki posisi tersendiri dalam memandang situasi politik internal PKI –partai terbesar ketiga di dunia pada masa Perang Dingin.

Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan buku ini, suara-suara sayup pihak yang kalah selayaknya tetap diperdengarkan. Kemudian kita kidungkan bersama di hadapan mahkamah hukum dan perdebatan intelektual. Seharusnya, dengan demikian, pengamatan kita terhadap sejarah akan bisa menjadi lebih jernih dan adil. Karena tanpa memahami sejarah masa lalu secara adil dan benar, masa sekarang akan menjadi sulit dicermati. Bagaimana kita bisa melangkah ke masa depan yang adil dan beradab jika lembar-lembar sejarah bangsa belum utuh dirampaikan.

Begitulah. Membaca buku Yang Berlawan bagai menelisik lembar-lembar sejarah ke dalam suatu buku ingatan kemanusiaan Indonesia. Secara obyektif kita dapat menilai, membandingkannya dengan sejarah resmi versi rezim Orde Baru. Dengan memperbandingkan, semoga kita dapat lebih mencerna khasiat ilmu pengetahuan sejarah. Sehingga, kita dapat yakin bahwa sejatinya Indonesia kita adalah rakyat yang memiliki sejarah berlawan. Meski kalah, perlawanan tetaplah perlawanan. Setiap perlawanan akan menjadi batu fondasi candi perlawanan yang lebih besar di masa ke depan. Ituah sepertinya yang hinggap di ingatan setiap pembaca buku terbitan RESIST BOOK dua tahun lalu.

Sebagai penutup akan dihadirkan sedikit pandangan pledoi dari komentar Ali Archam (salah satu pimpinan PKI pada tahun 1920an) dari pembuangannya di Digul tentang kegagalan PKI dalam pemberontakan bersenjata tahun 1926-1927. Cuplikan kata-kata itu mungkin bisa mewakili semangat PKI yang terus berlawan sampai kepada pemusnahannya di tahun 1965:

“Suatu pemberontakan yang mengalami kekalahan adalah tetap sah dan benar. Kita terima kekalahan ini karena musuh lebih kuat; kita terima pembuangan ini sebagai resiko perjuangan yang kalah. Tidak di antara kita yang salah, karena kita melawan penjajahan. Pihak yang salah adalah pemerintah kolonial”

Penulis adalah Aktivis, tinggal di Bali.

Seja o primeiro a comentar

Followers

Cianjur Berlawan © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO